My Half Blood
19.52 | Author: Tee
Half Blood Prince

Banyak orang yang merupakan perpaduan dari dua orang tua yang mempunyai latar belakang dan sifat yang berbeda. Dari segi latar belakang ada yang cuman beda kecamatan hingga yang ekstrim seperti beda negara. Dari segi latar belakang juga bisa berbeda.

Aku bisa dikatakan half blood prince karena kedua orang tuaku punya latar belakang yang berbeda dan tentu saja karena aku anak cowok mereka. Jika cewek so pasti disebut princess to.

Ibuku orang Jawa Timur tepatnya Bojonegoro yang juga menjadi kota asalku. Bapakku orang Yogyakarta yang menjadi kota tempatku berkembang. Secara latar belakang daerah asal memang tidak terlalu berbeda karena sama-sama dari Jawa makanya aku kental dengan darah Jawa. Cuman sayang, bahasa Jawa Kramanya kurang berkembang.

Yang berbeda adalah keluarga asal kedua orang tuaku. Yang satu dari keluarga sederhana seperti keluarga biasa dari kota yang kecil sedangkan yang satunya lagi dari keluarga yang punya sejarah panjang dan silsilah yang sampai sekarang masih dipertahankan. Secara adat jelas berbeda walaupun sama-sama jawa.

Perbedaan lain adalah tentu saja sifat. Yang satu adalah orang yang lebih sering menggunakan hati untuk memberikan respon sedangkan yang satu lebih cenderung memakai logika secara punya gelar master. Secara sifat sangat jauh berbeda lah. Yang sangat kuingat adalah kata favorit kalau aku ngobrol dengan mereka. Yang satu suka bilang "menurutmu gimana?" sedangkan yang lain "kenapa?".

Biasanya sebagai anak tertua pasti memilih untuk ikut mirip seperti bapaknya tetapi tidak dengan aku. Melihat perbedaan yang ada pada kedua orang guru paling pertamaku ini aku cenderung memilih, meminjam istilah Gholib, ekstrim tengah. Posisi yang menurutku sulit tetapi sangat baik. Posisi ektrim tengah sangat sulit untuk memahami ekstrim kanan maupun kiri dengan baik tetapi dengan sangat mudah melihat secara jelas kekurangan dan kelebihan masing-masing ekstrim tersebut.

Sebagai orang punya silsilah yang menarik memang membuatku cukup bangga tetapi aku tidak membuat hal itu sebagai sesuatu yang patut untuk disombongkan. Aku lebih suka membanggakan apa yang telah kulakukan daripada apa yang diberikan padaku. Aku lebih suka orang memanggil nama kecilku. Aku lebih suka menulis namaku tanpa tambahan di depan dan menyingkat nama keluargaku. Aku lebih suka hidup biasa daripada hidup ribet dengan adat yang banyak.

Logikakus totalus [logikaskus??] memang menjadi pilihanku tetapi logika bisa hancur bila hati tak menghendaki. Hati seperti mata yang mengontrol dan logika seperti tangan yang sangat berguna untuk berkarya. Berkomunikasi dengan orang pun menjadi lancar saat aku memilih posisi ekstrim tengah. Tidak semua orang suka berbicara mengenai logika dan itu akan sulit bagi orang yang selalu berpikir dengan logika. Seorang professor yang kukenal pun tak selalu berbicara mengenai logika malah yang paling kuingat adalah obrolan mengenai sepak bola.

Menjadi half blood prince adalah sesuatu sangat menantang karena bisa mengeksplor lebih banyak hal dari awal. Mencoba paham bahwa di alam ini banyak hal yang tidak sama tapi bisa berjalan secara harmoni. Mencoba untuk tetap berjalan ditengah perpaduan dua hal yang berbeda di kiri dan di kanan. Menikmati apa yang ada di kanan dan apa yang ada di kiri. Menjadi sesorang yang bisa diterima baik di kedua belah sisi. Menjadi sesuatu yang dikatakan sesorang dan dikutip oleh mas Arkha, jembatan. Cuman bedanya jembatan yang ini tidak akan jatuh, dia akan terus ada untuk memberikan kesempatan sisi-sisnya untuk terus berharmoni.

"two in harmony surpassess one with perfection"

This entry was posted on 19.52 and is filed under . You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

2 komentar:

On 2 Desember 2008 pukul 22.02 , Unknown mengatakan...

hmmm half blood prince ya?
klo saya apa ya... one third blood prince kali ya... bapak pure jawa timur, ibu campuran jogja-jawa timur, jadinya one third blood prince... hahaha

meskipun saya anak pertama, saya juga ndak pernah punya kepikiran utk jadi seperti bapak saya, just want to be someone different, coz I have my own life, own path, and of course own point of view...

 
On 5 Desember 2008 pukul 02.05 , Tee mengatakan...

Hew, bener tu pak. Setuju!